Apa itu Context Switching?
Context switching adalah istilah ketika kita sedang melakukan pekerjaan A, lalu tiba-tiba ada interupsi dan diminta mengerjakan pekerjaan B. Hal ini menyebabkan perubahan fokus besar di otak yang bisa mengakibatkan (ngeblank), (ngehank), atau bingung. Konteksnya bisa beragam, tetapi yang paling sering terjadi di lingkungan kerja dengan banyak tugas berbeda topik.
Dampak Context Switching
- Menurunkan produktivitas hingga 40%.
- Membutuhkan 5–20 menit untuk kembali ke tingkat produktivitas normal.
Cara Meminimalisir Context Switching
1. Batching
Kelompokkan tugas-tugas serupa agar otak tidak perlu berganti konteks secara terus-menerus.
2. Timeblocking
Alokasikan waktu khusus tanpa gangguan untuk satu jenis tugas.
3. Second Brain (Notion, Notes, dll.)
Catat progres sebelum berhenti mengerjakan tugas, sehingga saat kembali tidak perlu mengingat dari awal. Ini juga berguna jika terpaksa melakukan context switching.
Referensi
- Sophie Leroy, (Why is it so hard to do my work? The challenge of attention residue when switching between work tasks)
- Joshua S. Rubinstein, David E. Meyer, dan Jeffrey E. Evans, (Executive Control of Cognitive Processes in Task Switching)
- Gloria Mark, (The Cost of Interrupted Work: More Speed and More Stress)
Dengan menerapkan strategi di atas, Anda dapat meningkatkan fokus dan produktivitas secara signifikan.